Friday, 9 December 2011

Fauzi Bowo SEWOT

Beberapa hari yang lalu saya melihat berita di sore hari. Saya lupa melihat berita tersebut di stasiun televisi apa, karena kebiasaan di rumah kalau menonton tv sering ganti-ganti channel. Ketika acara yang sedang ditonton, iklan, di ganti lah channel tv oleh kakak saya, tidak sengaja kita melihat berita  yang disiarkan oleh stasiun tersebut, tentang kota Jakarta yang mengalami banjir yang disebabkan oleh air laut (atau Rob). Lalu di tengah-tengah berita tersebut Gubernur Jakarta Fauzi Bowo menjelaskan solusi yang di buat oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta yaitu dengan pembuatan Tanggul sementara di sekitar pinggir laut jakarta. Awalnya Fauzi Bowo semangat menjelaskan dengan detail tentang tanggul tersebut, hingga di akhir berita ada seorang wartawan yang bertanya kepadanya, kurang lebih seperti ini pertanyaannya. (W= Wartawan) (F=Fauzi Bowo)

W= Lalu solusi apa lagi yang akan di lakukan oleh Pemerintah Daerah Pak, Jika tanggul ini tidak bekerja sebagaimana mestinya? 

Lalu Pak Fauzi Bowo menjawab dengan nada agak seikit Sewot atau Emosi.
 
F= Ya kita lihat saja nanti, ini saja belum jadi, masa harus di bacaain Al-fatehah  . . .

Sesaat setelah berbicara seperti itu dia langsung pergi menjauh dari wartawan, dan berita pun selesai. Mendengar dia menjawab seperti itu saya langsung annoyed X( dan berfikir kenapa dia menjawab seperti itu? Dia itu kan orang yang Intelek, kenapa tidak menjawab layaknya orang yang Intelek? Dan lagi kenapa harus menjawab dengan nada kesal dan agak sewot seperti itu? Jawab saja dengan sewajarnya, walau kadang-kadang memang wartawan itu banyak bertanya, karena itu sudah menjadi tugasnya. Entahlah, mungkin juga Pak Fauzi Bowo sedang ada masalah saya pun tak tahu. Tapi sepenglihatan saya di tv, Pak Fauzi Bowo itu kalau di tanya wartawan pasti saja kalau tidak bisa jawab atau merasa tersudut dia akan menjawab dengan nada sedikit kesal. Hmm Seharusnya dia bisa lebih  mengontrol emosinya, karena dia adalah Seorang Gubernur dan lagi seorang yang berpendidikan.

No comments:

Post a Comment