Wednesday, 24 December 2014

TOLERANSI YANG TIDAK TOLERAN

          Menjelang natal hampir semua toko swalayan, kantor-kantor, hingga mal-mal mulai menghias tempat kerja mereka dengan ornament khas natal. Mulai dari pohon cemara hingga topi santaklaus pun tidak ketinggalan menghiasi ruang kantor mereka, tidak hanya kantor yang berhias para pegawai nya pun berpenampilan dengan gaya khas natal. Padahal tidak semua pegawai adalah umat nasrani tapi ini semua dilakukan atas nama toleransi, toleransi beragama lebih tepatnya seperti itu. Bahkan tidak sedikit kaum muslim yang ikut merayakan hari natal itu sendiri. Begitu juga dengan pemerintah Indonesia yang akan menggelar perayaan natal bersama dan telah menganggarkan dana hingga 20 milyar. Benarkah seperti itu yang dinamakan toleransi? 

        Kita sering sekali mendengar kata toleransi tapi kurang mengerti seperti apa makna toleransi sebenarnya dan bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan beragama yang heterogen khususnya di Indonesia. Toleransi (tasamuh) artinya sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009). 

          Sudah jelas sekali makna toleransi artinya sikap membiarkan, itu artinya kita sebagai kaum muslim sudah selayaknya membiarkan kaum nasrani untuk menjalankan ibadah nya tanpa kita ikut campur di dalamnya. Tapi kenyataannya banyak dari kaum muslim malah ikut merayakan hari natal. Itu artinya benar-benar toleransi yang tidak toleran (membiarkan). 

             Padahal jelas sekali dalam islam pun ada toleransi           
                                                لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ  
  … untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku” (TQS al-Kafirun [109]: 6)

           Perayaan Natal adalah bagian dari ajaran agama, karena itu merayakannya bagian dari ritual agama mereka. Rasul melarang kita menyerupai (tasyabbuh) kaum kafir, Hadist riwayat Tirmidzi,  

“bukan dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami janganlah kalian menyerupai Yahudi dan nasrani. “ 

Merayakan Natal, bukan hanya menyerupai orang Kristen, tetapi lebih dari itu justru telah mempraktikkan bagian dari ritual mereka. 

wallahu alam bishawab

Dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment