Tuesday, 20 January 2015

Islamphobia Dibalik Tragedi Charlie Hebdo


Di awal tahun 2015 dunia dikejutkan dengan peristiwa serangan penembakan yang terjadi di Majalah satire Perancis, Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang, termasuk pemimpin redaksi Stephane Charbonnier dan tiga kartunis majalah tersebut, Jean Cabut, Bernad Velhac, dan Georges Wolinski. Serangan dipicu karena majalah tersebut kerap menampilkan hinaan terhadap Nabi Muhammad. 
Awalnya  Charlie Hebdo akan menerbitkan karikatur Nabi Muhammad pada rabu (14/1/2015) kemarin, tetapi setelah terjadi serangan penembakan di majalah tersebut mereka mempercepat penerbitan itu pada selasa (13/1/2015) pihak penerbit menyiapkan setidaknya 3 juta kopi dari edisi yang dikerjakan oleh "karyawan yang selamat dari serangan", dari 60.000 kopi eksemplar yang biasanya diterbitkan. Rencananya, majalah ini akan didistribusikan ke 25 negara dan diterjemahkan ke 16 bahasa atas permintaan global. 
Sebelum menerbitkan karikatur yang menghina Nabi Muhammad, Charlie Hebdo sering menampilkan gambar penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Pada 2006, misalnya, majalah itu menampilkan kartun Nabi Muhammad yang dimuat di koran Denmark, Jyllands-Posten. Kemudian, pada 2011, kembali memuat gambar yang dianggap menghina Nabi Muhammad. Karyawan Charlie Hebdo mengaku, mereka akan tetap mempertahankan tradisinya untuk mengkritik semua agama, politisi, selebriti, dan perisitwa berita lain. "Di tiap edisi selama 22 tahun terakhir, tidak ada satu pun yang tanpa karikatur Paus, Yesus, pendeta, rabi, imam, atau Muhammad," kata pengacara Charlie Hebdo, Richard Malka. Menurut Malka Charlie Hebdo "bukan majalah  berisi kekerasan, melainkan merupakan sindiran terhadap segala sesuatu yang dianggap serius". 
Peristiwa serangan penembakan Charlie Hebdo dikaitkan dengan serangan teroris dan lagi-lagi islam menjadi kambing hitam atas serangan itu. Puluhan juta orang melakukan aksi solidaritas dan mengecam serangan tersebut. Padahal jelas sekali tidak akan ada api jika tidak ada pemicu dan Charlie Hebdo adalah pemicu dari kerusuhan yang terjadi di majalah tersebut. 
Hal itu menimbulkan islamphobia Setidaknya ada 116 serangan islamofobia terhadap muslim di prancis yang telah dilaporkan dalam waktu dua minggu terakhir dari serangan penembakan charlie hebdo di paris, lapor observatorium nasional melawan islamofobia, senin kemarin (19/1/2015). Serangan Islamofobia meningkat 110 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dan akhirnya peristiwa ini pun menjadi bias seolah-olah yang melakukan penyerangan tersebut adalah kaum muslim hingga membuat kaum muslim yang seharusnya mengecam tindakan Charlie Hebdo malah bungkam seribu bahasa. Bahkan banyak pemimpin Negara-negara islam yang ikut dalam aksi solidaritas dalam penyerangan tersebut. 
          Siapapun yang mencela Nabi Muhammad SAW sudah jelas hukumnya. Hal ini tertuang dalam hadis nabi.  
         Ka’ab bin Al-Asyraf menghina Nabi Muhammad SAW, Nabi SAW bersabda: “Siapa yang mau membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf? Sesungguhnya dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Muhammad bin Maslamah berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya?” Nabi SAW menjawab: “Ya.” Singkat cerita, Ka’ab bin Al Asyraf pun dibunuh oleh Muhammad bin Maslamah. (Muttafaq ‘Alaih dari Jabir).  
      Ibnu Umar -Radhiyallahu ‘anhuma- berkata: “Barangsiapa yang mencela Nabi -Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam-, maka dia harus dibunuh! 
       Berdasatkan hadits di atas dan hadits-hadits senada para ulama menyimpulkan, Imam Ahmad berkata: Setiap orang yang mencela Nabi -Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam- atau menjelek-jelekkannya, entah dia muslim atau kafir, dia harus dihukum mati. Dia dibunuh dan tidak perlu diminta taubat!” (Ash Sharim Al Maslul). 
        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -Rahimahumullah- telah berkata: “Kesimpulannya, bahwasanya jika orang yang menghina itu muslim, maka dia dikafirkan dan dibunuh tanpa ada perbedaan pendapat, dan ini adalah madzhab keempat imam serta selain mereka. Adapun jika yang menghina adalah orang kafir, maka dia pun juga dibunuh!” (Ash Sharim Al Maslul). 
Ibnu Hajar Al-Asqalani -Rahimahumullah- telah berkata: “Ibnul Mundzir menukil adanya kesepakatan umat bahwa barangsiapa yang mencela Nabi Muhammad -Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam- terang-terangan, maka dia wajib dibunuh!” (Fathul Bari). 
         Lalu saat sistem islam tidak di terapkan siapa yang akan  mengatasi tindakan Charlie Hebdo tersebut? sejatinya sistem demokrasi tidak akan menyelesaikan ataupun mengatasi perbuatan yang sudah dilakukan oleh Charlie Hebdo karena demokrasi adalah sistem buatan manusia yang manusia sendiri tidak punya wewenang terhadap tindakan orang lain selama itu berasaskan kebebesan berekspresi. Maka sudah saat nya system islam di terapkan agar semua tindakan yang tidak sesuai dengan islam bisa di kenai sanksi sesuai hukum islam.

Wallahu alam bishawab
Rianggi Pinandita 
Pendidik Di Taman Pendidikan Al-quran Al-Wiyah Ridwan




No comments:

Post a Comment